Monday, 5 May 2014

Home

Sepi Order...Pusing. Ramai Order...semakin Pusing

Bisnis percetakan merupakan sebuah bisnis yang cukup menguntungkan. Dengan margin yang cukup tinggi, apalagi jika order lumayan banyak, tentu akan memakmurkan pelaku bisnisnya.
Namun hal tersebut tidak selalu terjadi. Margin yang tinggi, order yang lumayan banyak, tidak menjamin pengusaha menjadi sukses secara finansial. Bahkan dengan semakin banyaknya order, justru semakin membuat pusing kepala karena kekurangan modal untuk operasional. Bahkan pusingnya melebihi kalau sepi order, karena butuh dana yang lebih besar untuk operasional. Sepi order , pusing. Banyak order , semakin pusing.
Ini sebenarnya tidak lazim, tetapi banyak dialami para pengusaha, terutama yang belum menerapkan sistem akuntansi atau managemen.
Kekurangan modal memang menjadi kendala. Namun kebanyakan kasus yang terjadi, bukan kekurangan modal yang menjadi penyebab utama, tetapi lebih karena pengaturan modal. Bahkan dengan menambahan modal, justru semakin menambah persoalan. Order banyak, tapi nggak ada modal...cari tambahan modal, aman, bisnis jalan. Tapi begitu ada order lagi modal udah habis, padahal sudah mulai harus mengembalikan pinjaman modal yang kemarin. Dana untuk operasional nggak ada, apalagi untuk mbayar angsuran pinjaman...padahal debt colectornya serem2...wah pusing!
Lho uangnya pada kemana? menghilang kemana? digunakan untuk apa? Waduuh...nggak tahu ya! Waduuh lupa...kan nggak ada catatannya.
Pengaturan keuangan sebenarnya tidak harus njlimet, rumit, dengan sistem  yang  membingungkan. Tapi cukup terapkan akuntansi/ managemen keuangan sederhana yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kita. 
Kalau ada anggarannya sih, memang lebih ideal ada bagian akuntansi yang ngurusi, tapi kalau anggarannya nggak ada, ya terpaksa kita lakukan sendiri. Paling praktis sebenarnya kita bisa menggunakan software akuntansi yang banyak dijual di toko-toko komputer. Tinggal kita masukan programnya, lalu kita masukkan data-data transaksi....pencet Enter...maka akan muncul catatan transaksi kita. Jumlah dana masuk, dana keluar, keuntungan dll. Bahkan kita bisa juga menyimpan data para pelanggan beserta transaksinya dan data suplayer beserta transaksinya. (Tapi tergantung menunya juga) tanpa harus repot mencatat dibuku. Tapi sebelum membeli program tersebut, konsultasikan dulu apa kebutuhan kita, tanyakan program yang mana yang bisa mengcover kebutuhan kita. 
Harga program akuntasi atau program penjualan ini, bervariasi dari mulai Rp. 150.000 sampai Rp. 1 juta an. tergantung tingkat kerumitan atau fasilitas yang disediakan. Harga yang tidak terlalu mahal, mengingat manfaatnya yang cukup besar. Bandingkan dengan harga yang harus dibayar untuk menggaji karyawan khusus untuk akuntansi atau kalau kita pusing ngurusin akuntansi...jika kita pusing konsentrasi terganggu, kerja tidak maksimal, belum lagi kalau salah hitung...wah bisa-bisa mau untung, malah jadi buntung.
Tapi kalau pakai program komputer masih dianggap mahal dan tidak ada anggarannya...cukup beli 1 dompet tambahan, jadi kita menggunakan dua dompet. 1 dompet untuk uang pribadi, 1 dompet untuk uang bisnis.
Segala keperluan pribadi kita, dana belanja, bayar listrik rumah, tagihan telpon rumah dll. kita ambilkan dari dompet pribadi. Lha kalau untuk kebutuhan beli kertas, beli tinta, bayar karyawan, pokoknya yang terkait dengan bisnis, baru kita ambilkan dari dompet bisnis.
Dari mana uang yang untuk mengisi masing-masing dompet dan bagaimana pengaturannya? 
Tentu saja uang untuk mengisi dompet-dompet tersebut, ya uang kita juga, dari bisnis kita juga. Paling gampang dan aman sebenarnya kita isi dulu dompet pribadi agar masalah2 diluar bisnis tidak timbul. Sumber nya dari gaji kita atau sebagian keuntungan kita. Lho koq bisnis sendiri bisa dapat gaji, siapa yang menggaji? Ya bisnis kita sendiri dong! kan dipercetakan itu kita juga ikut kerja, masak nggak digaji. Jadi berapapun keuntungan kita, banyak atau sedikit, sepi atau ramai order, gaji kita tetap tiap bulannya. 
Bisa juga kita tidak ambil gaji, tapi kita ambil sebagian keuntungan. 10%, 25%, 50% atau 90%, terserah kita. Tapi jangan sampai 100% keuntungan kita ambil semua. Kita mesti menyisihkan sebagian keuntungan untuk dana cadangan atau untuk penambahan modal.
Mau pakai sistem yang mana? Monggo silahkan pilih...tapi yang pasti sesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan kita.

No comments:

Post a Comment