Monday, 12 May 2014

Percetakan

 
Percetakan adalah sebuah proses industri untuk memproduksi secara massal tulisan dan gambar, terutama dengan tinta di atas kertas menggunakan sebuah mesin cetak. Dia merupakan sebuah bagian penting dalam penerbitan dan percetakan transaksi.
Banyak buku, koran, brosur, flyer dan majalah sekarang ini biasanya dicetak menggunakan teknik percetakan offset. Image yang akan dicetak di print di atas film lalu di transfer ke plat cetak. Warna-warna bisa didapatkan dengan menimpakan beberapa pola warna dari setiap pelat offset sekaligus.
Teknik percetakan umum lainnya termasuk cetak relief, sablon, rotogravure, dan percetakan berbasis digital seperti pita jarum, inkjet, dan laser.
Dikenal pula teknik cetak poly untuk pemberian kesan emas dan perak ke atas permukaan dan cetak emboss untuk memberikan kesan menonjol kepada kertas.

Sejarah

Percetakan mempunyai catatan sejarahnya sendiri. Sejarah menuliskan informasi tanggal dari gambar dinding gua yang berumur lebih dari 30.000 tahun. Pada tahun 2500 B.C., orang Mesir mengukir hieroglyphics pada batu. Akan tetapi, percetakan yang kita ketahui sekarang tidak ditemukan hingga lebih dari sekitar 500 tahun yang lalu.
Orang China membuat banyak penemuan. Mereka menemukan kertas di abad pertama dan moveable type yang terbuat dari tanah liat sekitar abad ke-11. Orang Korea pertama kali membuat moveable type dari perunggu pada pertengahan abad ke-13. Akan tetapi, tidak diketahui adanya hubungan antara penemuan awal orang Asia dan penemuan percetakan di Eropa pada abad ke-15.
Di Eropa, sebelum percetakan ditemukan, semua informasi yang tercatat ditulis dengan tangan. Buku-buku dengan hati-hati disalin oleh ahli tulis (scribes) yang sering menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan satu jilid buku. Metode ini begitu lambat dan mahal dan hanya sedikit orang yang memilik kesempatan atau kemampuan untuk membaca karya yang telah selesai.
Kemungkinan besar percetakan pertama kali ditemukan untuk mempermudah penduplikasian Injil. Jika sebelumnya ditulis dengan tangan di ruang scriptoria, maka sejak zaman renaisans manusia mulai berpikir untuk mempercepat proses ini lewat produksi massal.
Teknik cetak pertama kali yang dikenal dimulai dari Kota Mainz, Jerman pada tahun 1440 yang merupakan sentra kerajinan uang logam saat itu. Pertama kali metode cetak diperkenalkan oleh Johannes Gutenberg dengan inspirasi uang logam yang digesekkan dengan arang ke atas kertas.
Relief uang logam menimbulkan ide untuk membuat permukaan dengan tinggi bervariasi. Hal ini dikenal dengan nama cetak tinggi.

Monday, 5 May 2014

Home

Sepi Order...Pusing. Ramai Order...semakin Pusing

Bisnis percetakan merupakan sebuah bisnis yang cukup menguntungkan. Dengan margin yang cukup tinggi, apalagi jika order lumayan banyak, tentu akan memakmurkan pelaku bisnisnya.
Namun hal tersebut tidak selalu terjadi. Margin yang tinggi, order yang lumayan banyak, tidak menjamin pengusaha menjadi sukses secara finansial. Bahkan dengan semakin banyaknya order, justru semakin membuat pusing kepala karena kekurangan modal untuk operasional. Bahkan pusingnya melebihi kalau sepi order, karena butuh dana yang lebih besar untuk operasional. Sepi order , pusing. Banyak order , semakin pusing.
Ini sebenarnya tidak lazim, tetapi banyak dialami para pengusaha, terutama yang belum menerapkan sistem akuntansi atau managemen.
Kekurangan modal memang menjadi kendala. Namun kebanyakan kasus yang terjadi, bukan kekurangan modal yang menjadi penyebab utama, tetapi lebih karena pengaturan modal. Bahkan dengan menambahan modal, justru semakin menambah persoalan. Order banyak, tapi nggak ada modal...cari tambahan modal, aman, bisnis jalan. Tapi begitu ada order lagi modal udah habis, padahal sudah mulai harus mengembalikan pinjaman modal yang kemarin. Dana untuk operasional nggak ada, apalagi untuk mbayar angsuran pinjaman...padahal debt colectornya serem2...wah pusing!
Lho uangnya pada kemana? menghilang kemana? digunakan untuk apa? Waduuh...nggak tahu ya! Waduuh lupa...kan nggak ada catatannya.
Pengaturan keuangan sebenarnya tidak harus njlimet, rumit, dengan sistem  yang  membingungkan. Tapi cukup terapkan akuntansi/ managemen keuangan sederhana yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kita. 
Kalau ada anggarannya sih, memang lebih ideal ada bagian akuntansi yang ngurusi, tapi kalau anggarannya nggak ada, ya terpaksa kita lakukan sendiri. Paling praktis sebenarnya kita bisa menggunakan software akuntansi yang banyak dijual di toko-toko komputer. Tinggal kita masukan programnya, lalu kita masukkan data-data transaksi....pencet Enter...maka akan muncul catatan transaksi kita. Jumlah dana masuk, dana keluar, keuntungan dll. Bahkan kita bisa juga menyimpan data para pelanggan beserta transaksinya dan data suplayer beserta transaksinya. (Tapi tergantung menunya juga) tanpa harus repot mencatat dibuku. Tapi sebelum membeli program tersebut, konsultasikan dulu apa kebutuhan kita, tanyakan program yang mana yang bisa mengcover kebutuhan kita. 
Harga program akuntasi atau program penjualan ini, bervariasi dari mulai Rp. 150.000 sampai Rp. 1 juta an. tergantung tingkat kerumitan atau fasilitas yang disediakan. Harga yang tidak terlalu mahal, mengingat manfaatnya yang cukup besar. Bandingkan dengan harga yang harus dibayar untuk menggaji karyawan khusus untuk akuntansi atau kalau kita pusing ngurusin akuntansi...jika kita pusing konsentrasi terganggu, kerja tidak maksimal, belum lagi kalau salah hitung...wah bisa-bisa mau untung, malah jadi buntung.
Tapi kalau pakai program komputer masih dianggap mahal dan tidak ada anggarannya...cukup beli 1 dompet tambahan, jadi kita menggunakan dua dompet. 1 dompet untuk uang pribadi, 1 dompet untuk uang bisnis.
Segala keperluan pribadi kita, dana belanja, bayar listrik rumah, tagihan telpon rumah dll. kita ambilkan dari dompet pribadi. Lha kalau untuk kebutuhan beli kertas, beli tinta, bayar karyawan, pokoknya yang terkait dengan bisnis, baru kita ambilkan dari dompet bisnis.
Dari mana uang yang untuk mengisi masing-masing dompet dan bagaimana pengaturannya? 
Tentu saja uang untuk mengisi dompet-dompet tersebut, ya uang kita juga, dari bisnis kita juga. Paling gampang dan aman sebenarnya kita isi dulu dompet pribadi agar masalah2 diluar bisnis tidak timbul. Sumber nya dari gaji kita atau sebagian keuntungan kita. Lho koq bisnis sendiri bisa dapat gaji, siapa yang menggaji? Ya bisnis kita sendiri dong! kan dipercetakan itu kita juga ikut kerja, masak nggak digaji. Jadi berapapun keuntungan kita, banyak atau sedikit, sepi atau ramai order, gaji kita tetap tiap bulannya. 
Bisa juga kita tidak ambil gaji, tapi kita ambil sebagian keuntungan. 10%, 25%, 50% atau 90%, terserah kita. Tapi jangan sampai 100% keuntungan kita ambil semua. Kita mesti menyisihkan sebagian keuntungan untuk dana cadangan atau untuk penambahan modal.
Mau pakai sistem yang mana? Monggo silahkan pilih...tapi yang pasti sesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan kita.